25 Januari 2015

Wujiud Implementasii Islam Rahmatan Lil ‘Alamin


Oleh:Ahmad Fauzi Mulliji
Sekertaris Umum PK PMII IAIN Pontianak
(Tulisan ini juga di mmuat di Buletin Pergerakan PMII IAIN Pontianak Edisi Pertama) 

“Kita butuh Islam ramah, bukan Islam marah”, demikian ungkapan yang seringkali kita dengar yang konon dinisbatkan kepada Almaghfurlah KH Abdurrahman Wahid atau yang akrab di sapa Gus Dur. Hal ini tentu sangat releven kembali kita angkat mengigat banyak sekali permasalahan yang menjadi tantangan serius umat Islam akhir-akhir ini, mulai dari persoalan maraknya gerakan radikalisme atas nama agama hingga persoalan Charlie Hebdo yang kembali melakukan penghinaan terhadap simbol-simbol agama khususnya Islam yang terjadi baru-baru ini.
Pertama, persoalan maraknya terorisme atau gerakan-gerakan radikal atas nama agama seperti gerakan Islamic State of Iraq and Syria ( ISIS ) yang ingin mendirikan sebuah negara Islam atau Khilafah Islamiyah di Iraq dan Suriah dan Al-Qaeda, yang seringkali melakukan teror di mana-mana. Tentu hal ini sangat mengganggu mengingat mereka mencoba membawa simbol-simbol agama dalam hal ini Islam demi mewujudkan sebuah tujuan seperti  mendirikan negara atau Khilafah Islamiyah. Sehingga tak heran, mereka seringkali melakukan propaganda baik melalui media cetak maupun elektronik untuk mencari dukungan kaum Muslimin sebanyak-banyaknya, bahkan di beberapa daerah tertentu mereka telah melakukan berbagai gerakan subversif atau pemberontakan terhadap sebuah negara sepert yang terjadi di Irak dan Suriah akhir-akhir ini. Mereka tak segan melakukan tindakan-tindakan kekerasan serta pembunuhan masal terhadap orang-orang yang tidak sepaham dengan mereka.  Persoalan radikalisme dan teorirsme yang membawa simbol agama dalam hal ini sedikit banyak membawa dampak negatif bagi umat Islam khususnya di negara-negara minoritas Muslim. Ada anggapan bahwa Islam merupakan agama yang penuh dengan kekerasan serta ancaman sebagaimana yang mereka lihat saat ini. Sehingga tak heran jika Islamophobia di negara-negara Minoritas Muslim semakin meningkat.
Kedua, kasus Charlie Hebdo yang lagi-lagi melakukan tindakan penghinaan terhadap simbol-simbol agama dengan menampilkan kartun Nabi Muhammad SAW dalam beberapa edisi terbitannya dengan dalih kebebasan pers dan ekspresi berfikir. Majalah satir asal Prancis ini memang seringkali melakukan hal-hal kontroversial yang tak pelak menimbulkan kecaman banyak orang, mulai dari unjuk rasa besar-besaran sebagai bentuk solidaritas mengutuk tindakan yanng dilakukan majalah tersebut  hingga tindakan penyerangan yang dilakukan oleh sekelompok orang terhadap kantor berita majalah yang menelan korban jiwa. Tindakan ini tentu kembali mengingatkan kita pada kasus yang sama yang pernah dilakukan oleh Majalah Jyland Posten asal Denmark beberapa tahun yang lalu.
Dua persoalan ini memang tampak beda, namun penulis berusaha untuk menggali benang merah dari dua persoalan di atas yang menurut hemat penulis terletak pada tuntutan bagaimana seharusnya  respon terhadap masing-masing persoalan tersebut
Pertama, kita perlu kembali pada nilai serta ajaran Islam yang Rahmatan Lil ‘Alamin, ajaran Islam yang menjadi rahmat sebagian alam tidak hanya bagi umat Muslim tapi juga Non Muslim sebagaimana fimann Allah SWT dalam QS Al-Anbiya:107 yang artinya “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. Tenu kalau kita kaitkan dengan persoalan di atas maknanya adalah Umat Islam hendaknya menampilkan ajaran serta nilai-nilai Islam yang dapat memberikan rahmat serta kesejahteraan bagi makhluk di sekitarnya,Islam yang memberikan rasa aman dan damai, bukan malah sebaliknya menciptakan rasa tidak aman apalagi kebencian melalui tindakan kekerasan sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian kecil kelompok-kelompok radikal baru-baru ini.
Kedua, tindakan “kekerasan” dalam hal apapun tidaklah di benarkan, apalagi menyangkut nyawa orang-orang yang tidak berdosa. Tentu hal ini bukanlah jalan satu-satunya untuk merespon tindakan yang dilakukan terhadap kita sebagai Umat Islam sebagaimana Majalah Charlie Hebdo yang menghina simbol serta identitas Islam. Hal ini tentu bukan berarti kita menyetujui perbuatan serta tindakan mereka, Kita justru mengutuk keras tindakan mereka dengan alasan apapun.
Kita lihat bagaimana dalam sejarah ketika Nabi SAW di hina dan di caci maki oleh kalangan kafir Quraisy di Thaif, Nabi malah justru mendoakan mereka dengan doa “Ya Allah, berilah petunjuk/hidayah kepada kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui”. Hal yang dilakukan Nabi SAW tersebut di atas mengindikasikan bahwa tindakan kekerasan bukanlah satu-satunya solusi untuk merespon sebuah persoalan , justru malah menimbulkan persoalan baru.
Akhirnya, marilah kita kembali bersaa mengkaji serta membumikan nilai-nilai Islam yang Rahmatan Lil “Alamin, Islam yang penuh dengan kedamaian dan ketenraman sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW yang tidak menjadikan kekerasan sebagai alternatif untuk mencapai sebuah tujuan. Dengan demikian kita berharap bahwa dakwah Islam mampu diterima oleh semua kalangan dan anggapan negatif terhadap Islam dan Kaum Muslimin selama ini dapa di minimalisir ***)
Poskan Komentar