30 April 2015

Menyikapi Masa-masa Kritis di Semester Akhir



Oleh: AHmad Fauzi Muliji



Bagi tiap mahasiswa, menginjak semester akhir menjadi satu hal yang sangat menegangkan. Mungkin bisa jadi lebih menegangkan dari sekedar mengucapkan ijab dan Qobul. Pada saat proses pernikahan (tdak berlaku bagi jomblo akut ). Fenomena ini akan terasa biasanya ketika sudah mulai menginjak semester VI ke atas.
Mengapa di katakan masa-masa kritis? Di semester-semester inilah sang mahasiswa akan dihadapkan kepada pikiran tentang outine, seminar proposal, KKL, PPL, dan endingnya ya sidang skripsi. Kesemuanya itu harus dilalui oleh tiap-tiap mahasiswa sebagai prasyarat untuk mendapatkan gelar serjana di akhir masa studinya.
Terus,, bagaimana sikap mahasiswa menghadapi masa-masa seperti ini? Setidaknya ada beberapa tipe mahasiswa yang penulis amati dalam menyikapi persoalan ini.
Pertama, mahasiswa apatis. Mahasiswa semacam ini condong acuh tak acuh dengan studinya, biasanya tipe mahasiswa semacam ini sudah menjadi kebiasaannya di semester-semester awal, namun sulit untuk dirubah. Mahasiswa semacam ini biasanya akan lama menyelesaikan studinya.
Kedua, mahasiswa organisatoris. Tipe mahasiswa semmacam ini biasanya lebih mengutamakan kepentingan organisasinya di banding menyelesaikan tugas akhir. Mereka biasanya lebih asyik berdinamika di luar kampus  seperti aktif di LSM, OKP dll. Tak heran ketika melihat aktivis mahasiswa semacam ini biasanya studinya agak lebih lama, bisa mencapai semester XII ke atas. Walapun ada juga aktivis yang mampu menyelesaikan tugas kuliahnya tepat waktu.
Ketiga, mahasiswa akademis. Tipe semacam ini basanya menima mahasiswa-mahasiswa yang memiliki kemampuan IPK di atas rata-rata. Mereka berobsesi untuk bagaimana caranya menyelesaikan studi tepat waktu, kalau bisa lebih cepat dari waktu yang ditentukan. Mahasiswa seperti ini biasanya sering nongkrong di perpustakaan di sela-sela waktu luangnya sambil berkutat dengan buku-buku usang.
Keempat, mahasiswa ikut arus, tipe mahasiswa semacam ini kadang tiidak jelas arahnya atau bahkan tak punya arah. Biasanya mahasiswa semacamm ini menjadikan kawannya sebagai penunjuk jalan. Jika kawan kelasnya ramai-ramai ikut ngajukan proposal,, dia pun juga ikut. Begitu juga sebaliknya. Mahasiswa semacam ini cendrung slow menyikapi tugas akhir. Mereka punya pandangan yang penting tugas akhir bisa selesai tepat waktu, terserah bagamana caranya.
Nah, anda termasuk ke dalam tipe mahasiswa yang mana??? Silahkan fikir sendiri

Wallahu a’lam Bis Showab
Poskan Komentar